WASIS SOLOPOS XVII
Kali ini saya akan me-reupload tulisan-tulisan saya ketika masih menjadi Wartawan Siswa Solopos (Wasis) angkatan XVII. Sebelum itu, saya akan menceritakan sedikit perjuangan saya ketika mengikuti seleksi Wasis angkatan XVII.
Cerita ini bermula pada hari Minggu, 27 Desember 2015. Hari dimana seleksi Wasis di Griya Solopos diadakan. Saya berangkat seorang diri dengan naik sepeda motor kesayangan saya. Perlu kalian tau, bahwa saya adalah orang Klaten. Tidak begitu hafal daerah Solo. Dengan berbekal nekad dan restu orang tua saya berangkat. Saya hanya mengandalkan Google-Maps sebagai penunjuk jalan.
Di tengah perjalanan saya sesekali berhenti karna ingin memastikan jalan. Entah kenapa, ada sesuatu yang salah dengan motor saya. Yang benar sajaaa... ban motor saya kempes! Setelah tengok-tengok dan bertanya kepada tukang becak sekitar, akhirnya saya membawa motor saya ke tukang tambal ban terdekat. Saya tinggal motor saya disitu, dan naik taksi. This is my first experience naik taksi seorang diri!! Ya sama pak sopirnya juga sih wkwk.
Di perjalanan menuju Griya Solopos, kami (saya dan pak sopir taksi) banyak bercakap-cakap. Kurang lebih...
"Mbak ke Solopos ngapain?" tanya pak sopir.
"Ikut seleksi wartawan Pak," jawab saya.
"Mbak dari mana?"
"Dari Tegalduwur Pak,"
"Kenal Pak (saya lupa namanya)?" tanya pak sopir.
Banyak percakapan diantara kami. Saya sedikit lupa, dan kalaupun saya ingat, tulisan ini akan sangat panjang wkwk.
Singkat cerita, sampailah di pelataran Griya Solopos. Saya tanya ke pak sopir, "Berapa Pak?" sekedar berbasa-basi, karna saya bisa melihat argo taksi dari kursi belakang. Saat itu saya membawa uang Rp 50.000. Dari argo yang saya liat, saya sedikit lega karna argo taksi terhitung sedikit, karna dulu saya kira naik taksi itu mahal, tapi ini hanya belasan ribu (kalau tidak salah).
Ya namanya juga pengalaman naik taksi pertama... ternyata tarif minimal argo taksi dalam kota itu Rp 25.000. Mau jaraknya deket, atau kalau argonya tidak mencapai Rp 25.000, harus tetap membayar Rp 25.000. Yaudah dehh gapapa... saya bayar deh pak taksinya.
"Gak ada uang kecil to mbak?" tanya pak taksi.
"Gak ada i Pak," jawab saya.
(karna saya lihat, Pak Taksi gak ada uang 5000 untuk kembalian. Sebenarnya saya mengharapkan Bapak Taksi merelakan uang 5000 untuk saya. Saya berharap seperti itu karna saya harus mengambil sepeda motor yang ada di tukang tambal, dan ongkos untuk sampai ke sana. Tapi ternyata saya yang harus mengalah ke Pak Taksi *hikss)
"Ya udah mbak, gini aja tak kasih Rp 20.000 nanti saya doain ketrima," kurang lebih itu ucapan pak taksi.
Yasudah, mau tak mau saya harus menerimanya.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih ke pak sopir dan segera masuk ke Griya Solopos. Untung saja saya tidak telat. Disana saya bisa berkenalan dengan banyak orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Seleksipun dilaksanakan...
Selesai seleksi, kami (peserta seleksi Wasis) diajak jalan-jalan keliling Griya Solopos. Saya tanya pada teman-teman seperjuangan, "Kamu bawa motor?" (yang benar saja, sebagian dari mereka diantar orang tua atau saudara). Sampai akhirnya saya tanya Ivana (sekarang dia menjadi teman saya. Alhamdulillah kita sama-sama diterima Wasis), dia membawa sepeda motor dan mau mengantarkan saya di tukang tambal ban *uuhhh senangnya.
Akhirnya kami (saya dan Ivana) sampai di tukang tambal ban. Alhamdulillah tukang tambal bannya amanah. Bapak tukang tambal ban itu sampai merantai ban sepeda motor saya, karna dia harus pulang dulu untuk sholat. Saya hanya memegang uang Rp 20.000 saat itu, Alhamdulillah ongkos tambal hanya Rp 15.000 (terhitung mahal sih, karna biasanya cuma Rp 8.000). Tapi ya sekelas tambal ban di pinggir jalan Kota Solo, bahkan sepeda motornya ditinggal sampai dirantai yaa bolehlah segitu hehe. Beruntung juga Bapaknya amanah *jaman sekarang susah cari orang yang bene-bener amanah hikkss.
Finally I go home *yeyyyyy :) kalian tau dan ingat doa Pak Taksi??? Ternyata doa pak taksi terkabul :) mungkin juga bercampur doa kedua orang tua, saudara, teman yang berhasil mendobrak pintu langit. Hingga di hari pengumuman, saya adalah salah satu dari 4 siswi yang terpilih menjadi Wartawan Siswa SOLOPOS angkatan XVII. ALHAMDULILLAH...
![]() |
| (edisi perdana Wasis angkatan XVII, Minggu, 10 Januari 2016) |
Cerita ini bermula pada hari Minggu, 27 Desember 2015. Hari dimana seleksi Wasis di Griya Solopos diadakan. Saya berangkat seorang diri dengan naik sepeda motor kesayangan saya. Perlu kalian tau, bahwa saya adalah orang Klaten. Tidak begitu hafal daerah Solo. Dengan berbekal nekad dan restu orang tua saya berangkat. Saya hanya mengandalkan Google-Maps sebagai penunjuk jalan.
Di tengah perjalanan saya sesekali berhenti karna ingin memastikan jalan. Entah kenapa, ada sesuatu yang salah dengan motor saya. Yang benar sajaaa... ban motor saya kempes! Setelah tengok-tengok dan bertanya kepada tukang becak sekitar, akhirnya saya membawa motor saya ke tukang tambal ban terdekat. Saya tinggal motor saya disitu, dan naik taksi. This is my first experience naik taksi seorang diri!! Ya sama pak sopirnya juga sih wkwk.
Di perjalanan menuju Griya Solopos, kami (saya dan pak sopir taksi) banyak bercakap-cakap. Kurang lebih...
"Mbak ke Solopos ngapain?" tanya pak sopir.
"Ikut seleksi wartawan Pak," jawab saya.
"Mbak dari mana?"
"Dari Tegalduwur Pak,"
"Kenal Pak (saya lupa namanya)?" tanya pak sopir.
Banyak percakapan diantara kami. Saya sedikit lupa, dan kalaupun saya ingat, tulisan ini akan sangat panjang wkwk.
Singkat cerita, sampailah di pelataran Griya Solopos. Saya tanya ke pak sopir, "Berapa Pak?" sekedar berbasa-basi, karna saya bisa melihat argo taksi dari kursi belakang. Saat itu saya membawa uang Rp 50.000. Dari argo yang saya liat, saya sedikit lega karna argo taksi terhitung sedikit, karna dulu saya kira naik taksi itu mahal, tapi ini hanya belasan ribu (kalau tidak salah).
Ya namanya juga pengalaman naik taksi pertama... ternyata tarif minimal argo taksi dalam kota itu Rp 25.000. Mau jaraknya deket, atau kalau argonya tidak mencapai Rp 25.000, harus tetap membayar Rp 25.000. Yaudah dehh gapapa... saya bayar deh pak taksinya.
"Gak ada uang kecil to mbak?" tanya pak taksi.
"Gak ada i Pak," jawab saya.
(karna saya lihat, Pak Taksi gak ada uang 5000 untuk kembalian. Sebenarnya saya mengharapkan Bapak Taksi merelakan uang 5000 untuk saya. Saya berharap seperti itu karna saya harus mengambil sepeda motor yang ada di tukang tambal, dan ongkos untuk sampai ke sana. Tapi ternyata saya yang harus mengalah ke Pak Taksi *hikss)
"Ya udah mbak, gini aja tak kasih Rp 20.000 nanti saya doain ketrima," kurang lebih itu ucapan pak taksi.
Yasudah, mau tak mau saya harus menerimanya.
Akhirnya saya mengucapkan terima kasih ke pak sopir dan segera masuk ke Griya Solopos. Untung saja saya tidak telat. Disana saya bisa berkenalan dengan banyak orang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Seleksipun dilaksanakan...
Selesai seleksi, kami (peserta seleksi Wasis) diajak jalan-jalan keliling Griya Solopos. Saya tanya pada teman-teman seperjuangan, "Kamu bawa motor?" (yang benar saja, sebagian dari mereka diantar orang tua atau saudara). Sampai akhirnya saya tanya Ivana (sekarang dia menjadi teman saya. Alhamdulillah kita sama-sama diterima Wasis), dia membawa sepeda motor dan mau mengantarkan saya di tukang tambal ban *uuhhh senangnya.
Akhirnya kami (saya dan Ivana) sampai di tukang tambal ban. Alhamdulillah tukang tambal bannya amanah. Bapak tukang tambal ban itu sampai merantai ban sepeda motor saya, karna dia harus pulang dulu untuk sholat. Saya hanya memegang uang Rp 20.000 saat itu, Alhamdulillah ongkos tambal hanya Rp 15.000 (terhitung mahal sih, karna biasanya cuma Rp 8.000). Tapi ya sekelas tambal ban di pinggir jalan Kota Solo, bahkan sepeda motornya ditinggal sampai dirantai yaa bolehlah segitu hehe. Beruntung juga Bapaknya amanah *jaman sekarang susah cari orang yang bene-bener amanah hikkss.
Finally I go home *yeyyyyy :) kalian tau dan ingat doa Pak Taksi??? Ternyata doa pak taksi terkabul :) mungkin juga bercampur doa kedua orang tua, saudara, teman yang berhasil mendobrak pintu langit. Hingga di hari pengumuman, saya adalah salah satu dari 4 siswi yang terpilih menjadi Wartawan Siswa SOLOPOS angkatan XVII. ALHAMDULILLAH...

Komentar
Posting Komentar